Tayangan halaman minggu lalu
Posted by : Unknown
Minggu, 10 April 2016
Bel pulang sekolah berbunyi, para
murid bersiap meninggalkan sekolah dan menuju rumah masing-masing. Matahari
bersinar terang siang itu, ruang kelas terasa panas dengan suhu yang cukup
tinggi yang membuat murid-murid kegerahan saat pelajaran berlangsung. Sebelum pulang,
gue, Keyha, dan Rona sedang membicarakan rencana praktik tugas sekolah kami
besok pagi.
“Eh, Na, gimana?? Gue jadi ikut
kan?” , tanya Shesil kepada Rona sambil berkipas.
“Iya, Sil, jadi kok. Ntar kamu tak
jemput yaa, jangan lupa ntar tanyain mama kamu buat bahan-bahannya.” , jawab
Rona sambil membereskan beberapa buku.
“Key, dapur lo luas kan? Ada
kursinya kan? Gue bisa leluasa nggak disana?”
“Tenang aja, Shesil. Udah gue siapin
semua kok.”, jawab Keyha sibuk memainkan smartphone.
“Yaudah pulang aja yuk. Gue udah
capek banget nih, pengen tidur siang. Ayo, Sil, gue anter kedepan sekarang. Sms
mama kamu dulu gih.”
“Iya, Na. Bawain tas gue loh. Lo
pulang sama Keyha kan??”
“Iya, Shesilkuh sayaaangg…”
“Hahahaha… apaan sih… lebay lu!!”
Gue pun pulang masih dengan kaki
yang sakit dan dengan dua tongkat yang udah bosen gue pake.
*
* *
Keesokan harinya, tepatnya hari
minggu. Gue udah bersiap didepan rumah. Udah mandi, udah pake baju baru, pake
deodorant, pake hand and body lotion, pake minyak wangi, dan tak lupa udah
cream bath dari salon semalem. Hahaha apaan lebay banget gue. Padahal mo buat
walangan kek mo kondangan aja.
Oke
lanjut..
Rona datang dengan ekspresi yang sulit
dimengerti.
“Maa, bahan-bahannya udah kan??”,
tanya gue ke nyokap.
“Udah, tuh didepan kamu.”
“Oh ya nding.”, gue ambil kantong
kresek merah besar didepan gue.
“Ohh, ini lho, Na. Ketela pohon sama
gula.”
“Kok banyak banget yaa, Sil.”
“Iya, mama itu beli 2kg ketela. Jadi
ntar kamu kupas ketelanya, cuci, parut, cuci lagi, trus kamu goreng dalam
minyak panas. Pas setengah mateng, ntar kamu masukin gula cairnya sedikit demi
sedikit, sambil terus diaduk. Jangan lupa dicetak pas panas.”, terang mama.
“Gitu yaa, ma? Jadi pas digoreng
gitu dikasih gula cair?”
“Iyalah…”
Rona
tertawa kecil sambil melihat bahan-bahan dalam plastic.
“Lu
kenapa, Na? Kok nyengir-nyengir gitu??”
“Wkwkwk…
kagak kenapa-kenapa kok.”
“Yaudah
sekarang aja yuk, Na. Jangan lupa bahannya.”
“Yaudah
ayo, Sil. Pelan-pelan jalannya.”
“Oke,
Na.” , gue berjalan menuju motornya Rona.
“Udah
siap belom?”
“Udah
kok, ayo jalan sekarang.”
Gue
dan Rona on the way ke rumahnya Keyha. Disepanjang perjalanan, gue nggak
henti-hentinya bawel. Ah ngomong hati-hatilah, ngomong-ngomong sendiri nenangin
diri. Wajar aja gue bawel, jalanan pagi itu rame banget, gue khawatir kalo kaki
gue kenapa-kenapa.
Sesampainya
dirumah Keyha, gue dan Rona disambut tari saman sama keluarganya. Tak lupa rebana
dan sesajen ikut memeriahkan suasana. Hahaha ya kagak gitu juga kalii.
Gue
lewat pintu belakang yang lebih dekat dengan dapur. Gue duduk dikursi, tapi
akhirnya duduk dibawah. Kami mulai mengupas ketela, membuang kulitnya, terlihat
putihnya, dan kami rendam dalam air. Satu persatu ketela berhasil kami kupas.
Setelah itu kami parut dengan parutan gobet. Tau parutan gobet nggak?? Parutan
gobet itu seperti parutan keju tapi ukurannya lebih besar.
Gue
dan Rona berlomba memarut ketela.
“Marutnya
yang panjang-panjang, dong, Na.. Kaya gue nih..”
“Hehehe
iya iya..”
“Tuhkaan..
masih panjangan punya gue…”, gue menunjukkan hasil karya gue.
“Heemmm…
yadeh, Sil.”, cuek Rona.
Kami
pun mulai melanjutkan perlombaan memarut ketela terpanjang.
Kami
memakai dua parutan sekaligus, gue dan Rona memarut dengat teliti. Setiap
detail ketela kami parut, setiap incinya tidak kami lewatkan. Sedangkan Keyha
disuruh beli minyak lah, disuruh beli apalah. Tapi ditengah keseruan memarut
ketela, jarinya Rona kena mata pisau parutnya dan menimbulkan setetes darah
keluar dari jarinya yang mulus itu. Akhirnya 2kg parutan ketela berhasil
memenuhi 2 baskom.
“Udah
kan, Na? Cuci gih diair yang mengalir. Tapi jangan diremas-remas, ntar hancur
semua.”
“Iya,
Shesil…”
“Keyha,
kamu panasin gula merahnya. Apinya kecil ya.”
“Pake
panci yang mana eg?”, mencari panci dirak.
“Yang
kecil itu lho. Iya yang itu.”, gue menunjuk panci kecil.
Gue
sok ngatur. Sedangkan mereka sibuk dengan kegiatan mereka. Gue asyik selfie.
Senyum-senyum sok imut sambil bergaya. Manis dikit cekrek… cakep dikit cekrek…
cantik banyak cekrek cekrek cekrek…… *abaikan!
Setelah
semuanya clear. Kami mulai menggoreng ketela. Wajan kami panaskan. Minyak kami
masukkan kewajan. Wajan dan minyak bersama-sama menuju satu perasaan, yaitu panas.
Gue
berdiri, melihat perkembangan perasaan mereka berdua. Rona bilang kalo
minyaknya udah panas, tapi gue bilang minyaknya belom panas. Akhirnya kami
berdebat. Gue ngalah. Rona masukkin ketela sedikit demi sedikit. Dan ternyata
minyaknya belum panas. Ketelanya lembek. Diaduk-aduk tapi nggak mengembang. Gue
curiga.
Ketika
Rona asyik mengaduk ketela, tiba-tiba minyaknya muncrat dan numpahin kekaki
gue. Minyaknya cukup banyak yang kena kaki gue. Tapi gue nggak merasa panas,
anget malahan. Gue teriak, Rona ketawa, Keyha kaget. Suasana pecah seketika.
“Aduhh,
Rona… Lu ngaduknya yang bener dong. Kaki gue jadi korban nih..”
“Huahahahah…
Kagak sengaja gue. Maaf ya…”
“Gatau
ahh, terserah lu ajadeh. Tapi kok kaki gue nggak kepanasan yaa?”
“Tapi
kaki lo nggak kenapa-kenapa kan, Sil?”, tanya Keyha.
“Kagak
kenapa-kenapa kok. Yaudah aduk-aduk aja terus sampe kuning keemasan. Tapi
pelan-pelan ngaduknya. Gue duduk dulu.”
“Wkwkwkwk…
Maaf ya, Sil. Gue nggak sengaja kok.”
“Iya
iyaa… Hati-hati kalo ngaduk, Na.”
Rona
kembali mengaduk ketela. Keyha memperhatikan, gue mengawasi. Selang beberapa
menit, gue kembali berdiri dan melihat ketelanya. Sebenarnya tidak begitu
kelihatan kuning keemasan. Karena dirasa udah cukup lama mengaduknya, akhirnya
kami masukkan gula merah cair sedikit demi sedikit. Tapi… Yang terjadi malah
ketelanya nggak mau nyampur sama gulanya. Mereka tidak mau bersatu. Bukannya
mendekat tapi malah menjauh. Dramatis.
Kami
bertiga berdebat. Mencoba mencari jalan keluar dari permasalahan ini. Akhirnya
muncullah suatu gagasan untuk menggoreng ketelanya dalam wajan kecil. Sedikit
demi sedikit ketela digoreng dan dicampur dengan gula. Kami mulai mencoba
eksperimen tersebut. Keyha mengambil sendok sayur untuk memindahkan minyak
goreng dari wajan besar ke wajan kecil. “
“Keyha,
pelan-pelan mindahinnya.”, Rona khawatir.
“Kayanya
udah cukup deh buat digoreng.”, jelas Keyha memasukkan minyak goreng terakhir.
“Sekalian
ketelanya juga. Sedikit aja, Ha.”, ujar Rona.
“Iya,
deh.”
Keyha
mulai memindahkan ketela sedikit demi sedikit. Rona menyalakan api. Karena
terlanjur menggunakan sendok sayur, tanpa sadar Keyha mengaduk ketela
menggunakan sendok sayur dalam minyak panas. Tiba-tiba Keyha menjerit.
Ternyata…..
“Huuuaaaaaaaaa…….”,
suara Keyha menggelegar.
“Hahh??
Lu kenapa, Ha??”, tanya Rona.
“Ini
sendok sayurnya meleleh….”, Keyha dengan ekspresi tidak percaya.
“Sumpeh
lo??”, tanya gue dengan ekspresi bego.
“Hahh??
Beneran kagak??”, Rona telat menanggapi.
Semuanya
panic.
“Huahahahaha…
Sendok sayurnya kalah sama minyak panas. Meleleh kaya hati gue.”
Kita
bertiga tertawa lepas melihat sendok sayur yang meleleh karena panasnya minyak.
“Huahahahah……….
Ahahahhaahahaa……”
“Yaelah..
Gimana dong? Ntar dimarahin mama lo lagi. Yahh, elo sih, Na, nyuruh
ngaduk-ngaduk ketela pake sendok sayurnya. Udah tau dari plastic juga.”, Shesil
khawatir
“Yaelah…
Namanya juga udah terlanjur, kagak sadar juga si Keyha ngaduk-ngaduknya.”
“Yaudah
gapapa kok, pasti nyokap ngertiin. Lagian dipasar masih banyak sendok sayur.”
“Maaf
ya, Ha.”, ujar Shesil.
“Iya,
maafin kita ya, Ha.”
Kita
berdua merasa bersalah. Keyha mengganti sendok sayur dengan sepatu la yang
terbuat dari stain less stil. Rona mulai menggoreng ketela. Ketika sudah
terlihat kuning keemasan, Keyha memasukkan gula cair sedikit demi sedikit.
Sedangkan gue sibuk mengawasi gerak gerik mereka. Saat dirasa udah matang,
walangan kloter pertama pun berhasil kami angkat. Gue udah duduk dibawah dengan
beberapa tutup toples dan plastic untuk mencetak walangan.
Walangan
pertama berhasil gue cetak dengan tangan gue yang tahan terhadap panas. (Tangan
gue strong!!)
Produk pertama melegakan hati kami
untuk terus menggunakan cara ini. Ketika Rona menggoreng walangan yang kedua,
terjadilah ketidaksesuaian tekstur walangan pertama dengan walangan kedua.
Walangan kedua cenderung lembek. Setelah itu muncullah ide dari otak gue untuk
menggorengnya agak lama sedikit, lalu baru dimasukkan gula cairnya. Tapi yang
terjadi malah ketelanya terlanjur matang dan gulanya nggak mau nyampur sama
ketelanya. Gulanya lebih memilih menyatu dengan minyaknya, akhirnya si minyak
menjadi cokelat karena ulah si gula. Gue menyesal.
Produk kedua gagal karena gulanya
menjadi pahit. Produk ketiga gosong karena terlalu lama menggoreng. Rona
menyarankan untuk mengganti minyaknya dengan minyak yang masih jernih.
“Keyha, ambilin saringan teh buat
nyaring nih minyak biar ketela yang ancur bisa pisah sama minyaknya. Sama
mangkok juga.”
“Iya, Na.”
Keyha
mulai mengambil mangkok dan saringan teh. Lalu terjadilah peristiwa yang
menegangkan. Rona dan Keyha saling berhadapan, gue berada diposisi disampingnya
Keyha. Rona mulai menuangkan minyak, Keyha memegangi saringan teh. Keyha
kembali berteriak. Gue kira gara-gara minyaknya tumpah. Karena pas Rona nuangin
minyak kemangkok, minyaknya tumpah. Ternyata bukan itu.
“Huuuuaaaaaaaaaaaa………..”,
teriak Keyha sambil teriak.
“Hahhh???
Kenapa, Key??”, tanya gue dengan ekspresi kaget.
“Eehhhh…
Ada apa eg??”, Rona melihat minyak yang tertuang dimangkok.
“Hahahahahah…….
Iniii…..”, Keyha memperlihatkan saringan teh yang bolong.
“Hahahahahahahahahaha……….”,
gue dan Rona tertawa lepas.
Suasana
kembali pecah karena tawa kami yang terlalu berlebihan.
Kami
bertiga tertawa lepas. Entah karena emang lupa atau emang nggak tau kalo
sesuatu yang panas pasti akan melenyapkan yang berbahan plastic. Kami kembali
melakukan kesalahan yang membuat nyokap Keyha kehilangan dua benda sekaligus
untuk memasak.
“Hahahaha….
Pantesan pas tadi Rona nuangin minyak, tadi kedengeran suara kkrreeeesssss
gitu. Ternyata saringannya melelh to. Hahahahah…..”, Shesil sampai meneteskan
air mata.
“Hiks.
Maafin kita lagi ya, Key. Tadi udah sendok sayur, sekarang saringan teh.
Harganya berapa?? Ntar kita ganti deh..”, Rona merasa bersalah.
“Ehh…
Gausah. Kagak apa-apa. Lagian nggak sengaja kok. Kitanya aja emang bego kurang
hati-hati. Salah gue juga kok.”
Hahahaha…..
Yaudah beresin dulu aja gih. Trus lanjut lagi gorengnya, udah siang nih.”
Kami
pun membersihkan kekacauan yang kami buat dan kembali melanjutkan kembali tugas
kami. Akhirnya produk keempat dan seterusnya mengalami perkembangan yang cukup
baik. Hasilnya sesuai yang kita inginkan. Totalnya ada 16 cetakan yang berhasil
kami buat. Jika tidak ada kegagalan dalam eksperimen yang kami buat, pasti
jumlahnya ada 20 cetakan.
Setidaknya
kami bangga dengan produk yang kami buat sendiri. Meski penuh ke-konyol-an dan
kekacauan yang kami buat.